18 Apr 2012

Harapan Suami Dan Pinta Seorang Istri

Harapan Suami…

Duhai istriku, harapku padamu ketika kau menjadi pendamping hidupku,maka jadilah istriku yang mendampingiku dunia dan akhirat’a…..Jadikan tahta singgah sana kita layaknya “Bayati Janati”….Tutuplah kekuranganku dengan kesempurnaanmu dan aku akan menjadi penutup kekuranganmu dikala engkau tak sempurna.


Duhai Istriku,Waktuku tak banyak dirumah karena aku harus menjemput rizki yang telah Allah sediakan untukku raih,maka didiklah anak_anak kita kelak di madrasah Ilmumu…Hiasilah mereka dengan sifat penyantun dan kenalkanlah mereka dengan Tuhan dan Nabi kita… “Anak adalah amanah Allah kepada orang tua,” (Al-Ghazali dalam Ihyanya)

Dan ingatlah dengan sebuah hadist:
Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dengan membawa fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikan Islam,Yahudi, Majusi atau Nasrani.”


Duhai Istriku, ku teringat sebuah kewajiban yang harus ku tunaikan sebagai seorang suami, sebagai seorang nahkoda dalam kapal kita, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga kita, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah ayat. Allah Ta’ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa :34)
Duhai Istriku,Aku Takut jika kelak kepemimpinanku yang akan memberatkanku ketika aku tidak bisa amanah kepadamu…aku teringat dengan sabda Nabi
Dari Abdullah Bin Umar Radiyalallahu ‘Anhu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. ( HR. Bukhari dan Muslim)

Duhai istriku,aku akan berusaha menjadi suami yang baik, yang menyayangimu yang berusaha untuk berta’awun (saling tolong menolong) dalam kebaikan,dan aku teringat dengan sebuah ayat yang tak jarang aku mendengarnya
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
” Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan ( Qs. Maidah : 2 )

Duhai Istriku semoga aku bisa manjadi seperti seorang hamba yang Allah rahmati, sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadist
“ Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan istrinya untuk sholat dan bila tidak mau bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan suaminya untuk sholat dan bila tidak mau bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya (HR.Tirmidzi)
Duhai istriku, ku akan selalu berusaha membuat dirimu senang, sebagaimana  ku senang jika diperlakukan seperti itu. Diantaranya ku akan berusaha selalu tampil rapih, wangi dihadapan dirimu. Sebagaimana ku senang jika ku diperlakukan seperti itu.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya” (QS.AL-Baqarah : 228 )

Duhai istriku, jika engkau melihat dari diriku rasa cemburu itu bukti rasa cintaku padamu. Yang dengan itu, aku berusaha menjaga dan mencintaimu, semoga dengan sebab kecemburuanku yang syar’i menjadi sebab terjaganya dirimu, ku ingin seperti Sa’ad bin Ubadah bahkan ku ingin seperti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Berkata Sa’ad bin Ubadah :“ Seandainya aku melihat seorang bersama istriku, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang yang tajam”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu dari padanya, dan Allah lebih cemburu dari padaku” (HR. Bukhari dan Muslim)
Duhai istriku,engkau dalam pandanganku seorang yang sangat berharga bagi diriku, sosok yang luar biasa, ketaatanmu yang membuat diriku tambah mencintai dirimu. Engkau diantara anugrah yang terbesar yang Allah berikan kepada diriku, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah ” (HR Muslim)
Duhai istriku, kebaikanmu begitu besar kepada diriku, kasih sayang dan kelembutanmu, ketaatan dan kesetiaanmu, pelayanan dan pengorbananmu begitu terasa oleh diriku, wahai istriku, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan masukkanmu kedalam surga Nya.
Teringatku dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Bila seorang shalat lima waktu, puasa pada bulan ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suminya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan (HR.Ibnu Nuaim)
Duhai istriku,ingatkanlah jika suamimu keliru, jika ada hakmu yang terlalaikan,duhai istriku jangan engkau ragu untuk menasehati jika suamimu keliru, jika suamimu salah,duhai istriku  ku ingin rumah tangga kita dibangun diatas saling menasehati didalam ketaatan kepada Allah, karena atas dasar inilah agama kita dibangun. sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Agama itu adalah nasehat” (HR Muslim)
Duhai istriku, ku ingin hubungan kita dibangun atas saling percaya dan saling berkhusnudzan (berberbaik sangka) satu dengan yang lainnya,karena dengan sebab inilah akan menutup celah hal-hal yang akan menimbulkan hubungan kita tidak harmonis.

Duhai istriku,jadilah dirimu istri yang selalu memberikanku kesejukan dan kedamaian dikala aku lelah… maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi diriku,selain istri yang shaleha,Yaitu, “taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan
suaminya, ketika suaminya pergi.”
(HR Ibnu Majah).
Duhai istriku,ku akan melangkahkan kaki ini, mengerahkan tenaga mencari rezeki yang halal yang Allah tetapkan untuk diriku, sebagai tanggung jawab seorang suami untuk menafkahi anak dan istrinya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“ Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya “ (QS. Ath-Thalaq : 7)
Wahai istriku,ku akan selalu berusaha bergaul dengan pergaulan yang baik dengan dirimu, dengan kelembutan dan kasih sayang, dengan tutur kata yang sopan dan etika yang baik, dengan mendengar dan menghargai pendapatmu, dengan membantu dan meringankan pekerjaanmu, dengan bersikap yang baik dan menjaga perasaanmu, wahai istriku maafkan suamimu jika masih jauh dari hal itu, ku ingin berusaha berbuat yang terbaik untuk dirmu.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik ahklaqnya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istrinya “ (HR. Bukhari dan Muslim)
Wahai istriku, ku ingin engkau akrab dengan kedua orang tuaku. Ku ingin mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri, wahai istriku mulailah dengan berlaku lemah lembut kepadanya, membantu pekerjaannya, niscaya engkau akan disayang seperti anaknya sendiri.
Wahai istriku semoga Allah menjaga dan melanggengkan rumah tangga kita diatas ketaatan kepada Allah hingga akhir hayat kita, dan memasukan kita kedalam surganya.




Pinta Istri


Wahai Suamiku...InsyaAllah Aku akan berusaha untuk menjadi seperti yang engkau
harapkan,karena Ridha Allah ada pada Ridhamu selama tak bermaksiat kepada Allah…Namun Wahai Suamiku dengarkanlah juga pintaku,jika Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak untuk mendapatkan harapannya baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata Suami,Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah dengarkanlah pintaku..:

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Seperti dalam firman Allah

 “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu,dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (An Nisa’1)

Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya,Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.
Wahai Suamiku banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan….Istri tidak dianggap penting..Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada pertanggung jawaban’a, Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”


Wahai Suamiku,wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki,sabda Nabi saw, jika wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulang rusuk itu akan patah dan patahnya berarti talaknya….kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (dan hadapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri…Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan…Ia siksa dan disakiti tanpa sedikitpun kenal belas kasihan… jangan karena badanmu lebih kuat lalu kau gunakan kekuatanmu untuk memukul istri,Ingat bahwa istri juga manusia ciptaan Allah yang harus kau jaga dan sayangi... Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Wahai Suamiku,aku tidak ingin jika dirimu menjadi imam yang sombong ,aku takut dengan seorang pemimpin yang sombong yang akan menjadikanku wanita yang takabur dan kufur akan nik’mat..sedangkan sombong adalah sifat setan…. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya..:
Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin ..Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak Allah semata. (Al Baqarah:34).  

Allah berfirman dalam: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong. (Qudsi)

Wahai Suamiku,dengan kesombonganmu maka dalam keseharian akan terjadi diri bisa merasa segalanya dari suami…Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali…Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong dirimu wahai suamiku.


Wahai Suamiku,bisakah dirimu jujur tidak ada yang ditutupi dari istrimu..??Nabi saw. teladan suami yang baik tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya…Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya,bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain,bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri… Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan dengan bersikap jujur.

Wahai Suamiku banyak para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah,Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya,atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya…Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum kami..banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini sehingga membuat kami selalu bersu’udzon,bukankah dalam ikatan sebuah rumah tangga yang “bayati janati” mengharapkan keberkahan…??

Wahai Suamiku,Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan dan bukan suami yang dictator meski dalam fitrahnya istri harus manut kepadamu... Bersikaplah bijak dan arif,tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan….Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan…Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Wahai Suamiku,tidak sedikit para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong… Tidak mau jujur atas perbuatannya… Ingatlah sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci,bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman…Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Wahai Suamiku,Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia…Melainkan lebih dari itu ia ingin dihargai…Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri…Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para suami pembohong.


Wahai Suamiku,Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng… Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis itu benar,tapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an…Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar..!!Para istri mengharapkan suami yang gagah dalam arti gagah yang tabah dalam menghadapi cobaan hidup.


Wahai Suamiku,Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya,Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi…Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan ketika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.Itulah teladan yang rosul berkan buat dirimu wahai suamiku agar dirimu juga bisa menjaga istri dan keluargamu…Para istri sangat tidak suka suami pengecut..mereka suka pada suami yang pemberani….Sebab tantangan hidup sangat menuntut dan pertimbangan yang matang.


Wahai Suamiku,Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal ,banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami…Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit…Cukupkanlah nafkah kepada kami selama engkau mampu dan kami akan mensyukuri apa_apa yang telah engkau usahakan buat kami.


Wahai Suamiku,Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami…Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.. dan teladan nabi bisa engkau jadikan teladan dalam membingbing anak bahwa mengurus anak adalah bukan pekerjaan istri saja tapi tanggung jawab kita bersama... "Bagaimana seseorang membantu anaknya supaya ia berbakti?", Nabi berkata: "Janganlah ia dibebani (hal) yang melebihi kemampuannya, memakinya, menakut-nakutinya, dan menghinanya".


Wahai Suamiku,Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya,begitu juga seorang istri…Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan isi hati yang dipendamnya kepada sang suami,Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya, Karena sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh sikap dari seorang suami yang bijak.. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Wahai Suamiku,Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu memperhatikan anak dan istrinya.Ingatlah bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena misskomunikasi..Karena itu sering adanya komunikasi adalah salah satunya menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.


Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. 

Wahai Suamiku,Aku bukan wanita yang sempurna maka tutuplah ketidak sempurnaanku dengan kesempurnaanmu,Aibku adalah Aibmu begitu juga Aibmu adalah Aibku,
“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Jagalah namaku dan kekuranganku selama engkau masih bersamaku,

Rasulullah SAW bersabda, Man satara musliman, satarahullâhu fid-dunyâ wal-âkhirah. (Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

“… mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun (suami) adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187)

“Sampaikan segala kebaikan dan sifat mulianya, dan tutup rapat-rapat segala aibnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”


Wahai Suamiku jangan kau hinakan kami dengan Rusak nama dan kebaikanku,jangan kau jatuhkan semangatku dengan hinaan dirimu,jangan kau caci aku karena kesempurnaamu,jangan kau cemooh aku dengan amal-amalanku yang menjadi penuntunku kala aku khilaf,berikan aku kebebasan untuk berkreasi selama aku tak bermaksiat kepada Allah,engkau adalah pelindung sandaranku maka lindungilah aku dengan sandaran yang nyaman agar aku bisa merebahkan bebanku kala aku lelahku,Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.(Tirmidzi)




























1 komentar:

NASIHAT PERNIKAHAN UNTUK SUAMI DAN ISTERI

Pernikahan adalah suatu perjanjian yang besar, suatu pertanggungjawaban yang berat bagi seorang laki-laki, yang mana dia mengambil seorang w...